Oleh: Daniel Timorang | 10 Desember 2009

“Malas”

“Ah, males ah,” kata teman saya pada suatu hari, ketika saya mengajaknya pergi. Sehingga saya pergi saja sendiri. Saya mengangap kata “males” itu sebagai “nggak mau”. Sebenarnya demikianlah arti sebenarnya kata tersebut, malas adalah tidak mau.

Malas adalah sikap hati yang enggan, menarik diri, sumber kemiskinan. Ada kemiskinan karena sebab lain selain malas, Tetapi saya bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan kemiskinan adalah di sebabkan kemalasan. Akibat kemalasan maka kemiskinan akan menyerbu seperti air bah. Apapun yang dihasilkan dari sikap malas adalah negatif.

KeTuhanan kita tidak maju sebabnya karena malas! Iman tidak berkembang karena malas, pengetahuan tidak bertambah karena malas, maka kemiskinan dalam segala bidang akan mengisi hidup kita.

Melawan kemalasan adalah perjuangan seumur hidup kita, tidak ada akhir, karena malas adalah sifat daging, di bawa di dalam daging. Kita harus melawan kemalasan dengan tindakan. Malas akan datang pada saat kita ingin mengerjakan sesuatu yang positif. Contohnya, ketika kita pingin olah raga maka seketika itu pula daging kita akan mengeluarkan jurus malasnya, ketika kita ingin membaca alkitab, malas  langsung keluar melawan keinginan kita itu.

Keputusan diperlukan di dalam memerangi kemalasan. Awal melawan kemalasan bukanlah dengan suasana hati atau perasaan, tetapi dengan keputusan. Bahkan rasanya semua yang baik itu baru bisa dilakukan hanya dengan keputusan. Daging kita tidak punya sifat yang baik, daging hanya mencari kesenangannya sendiri, malas adalah senjata daging untuk menarik kita dari hal-hal yang positif/baik. Itu sebabnya kita harus mengalahkan kemalasan dengan suatu keputusan agar supaya kita dapat memperkaya diri kita. Mengasihi bukanlah sifat daging, kita harus memutuskan untuk mengasihi, sekalipun kita tidak ingin. Kita memutuskan untuk berdoa, kita memutuskan untuk membaca firman, kita memutuskan untuk belajar, kita memutuskan untuk olah-raga dsb. Keputusanlah yang akan mengalahkan kemalasan diri kita.

Dunia tidak pernah terbentuk kemajuannya oleh orang-orang malas, bahkan orang-orang malas adalah lebih bisa digolongkan kepada perusak. Berikan mobil orang malas, maka mobil tersebut tidak akan menjadi lebih bagus bahkan sebentar saja akan hancur, berikan sebidang tanah kepada orang malas maka sebentar saja tanah itu akan penuh dengan semak-semak, berikan sebuah rumah kepada orang malas maka sebentar saja rumah tersebut akan menjadi rumah tua. Apa saja yang dimiliki orang malas akan rusak. Sebab itu Amsal menggolongkan orang malas pada golongan perusak. Tuhan anti dengan kemalasan. Iman tidak pernah tinggal pada orang malas. Gereja tidak akan maju kalau jemaatnya kebanyakan malas. Negara tidak akan makmur dengan kemalasan. Basmilah kemalasan maka kita akan menikmati kelimpahan dalam segala hal..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: