Oleh: Daniel Timorang | 9 Desember 2009

Iman=Bertindak

“Aku akan menunjukkan imanku dari perbuatanku”, Seorang murid Yesus berkata. Benar sekali pernyataan ini, sebab iman adalah suatu sikap hati, iman bukanlah berwujud benda yang bisa dilihat, Tuhan dapat melihatnya tetapi kita manusia hanya dapat merasakannya dari outputnya saja. Kita tidak dapat melihat listrik, tapi kita tahu ada listrik karena ada lampu yang menyala. Demikian juga iman, hanya dapat deketahui dari setiap perbuatan kita.

Iman kalau kita bisa sebut adalah suatu energi. Ia mempunyai daya atau kekuatan untuk menggerakkan seseorang yang memilikinya. Hampir tidak mungkin, kalau dapat saya nyatakan di sini, orang yang memiliki iman akan berdiam saja. Sama seperti listrik, kalau aliran listrik tidak padam maka apabila kita menyalakan lampu, maka lampu itu harus menyala, bila tidak pasti ada sesuatu yang tidak benar.

Orang benar akan hidup dengan imannya. Iman perlu  ada di dalam hidup kita kalau kita ingin jadi orang benar di mata Tuhan. Hidup dengan iman itu bukan berarti bahwa kita sudah tidak perlu uang, makanan, pakaian, kendaraan dsb. Kebutuhan fisik tetap harus dipenuhi oleh hal-hal fisik, kecuali ada keadaan khusus yang mana Tuhan perlu melakukan mujijatNya. Tetapi normalnya hidup sehari-hari adalah bekerja, menabung, memenuhi kebutuhan hari-hari, ada kelebihan ada kekurangan, dan lain sebagainya. Jadi dimanakah perannya iman di dalam kehidupan kita sehari-hari?

Iman lebih banyak berperan di dalam memberikan kita tenaga untuk memenuhi kebutuhan kita, tenaga itu berupa pengharapan, semangat, energi dan ide-ide. Orang yang beriman tidak akan menjadi lesu, putus asa, atau kehilangan semangat di dalam menghadapi setiap persoalan. Sebesar apapun persoalan yang dihadapi, orang beriman akan tetap bisa menjalaninya. Bukan karena dia mampu tapi karena ian dihatinya memberikan dia tenaga dan pengharapan dan jalan yang sepatutnya dia ambil di dalam kejadian tertentu. Iman tidak dapat di “copy-cat”, artinya iman yang pernah kita pakai pada masa lalu, kita terapkan lagi pada masa ini. Tidak iman harus selalu baru. Yesus berkata, “hari ini adalah hari ini, besok untuk besok” (Saduran saya sendiri…). Maksudnya adalah iman dan semangat hari ini, tidak dapat dipakai untuk hari esok, hari esok butuh iman yang baru lagi. Contoh nyata adalah raja Daud, dia adalah seorang jagoan perang, peperangan bukan lagi hal yang baru bagi dia, hampi seluruh hidupnya berperang. Kalau bicara skill berperang, maka Daud adalah diatas rata-rata dilihat dari jam terbangnya di dalam peperangan dan menghadapi bermacam-macam jenis musuh. Tetapi mengapa dia selalu menjerit kepada Tuhan setiap kali dia akan berperang, bahkan beberapa kali dengan musuh yang lebih lemah atau bahkan musuh yang sama yang pernah ia kalahkan. Daud mengerti tentang apa itu iman dan bagaimana hidup di dalamnya. Saat ketika daud tidak mencari Tuhan dan menimba imannya untuk menghadapi suatu peperangan atau ia menggunakan pengalamannya yang lalu untuk menghadapi musunya, itulah saat-saat kekalahan Daud.

Demikianlah yang dimaksud oleh Paulus di dalam surat Roma tentang hidup oleh iman, hari ini kita mendengar janji Tuhan untuk hari ini, besok kita harus mencari janjinya untuk esok! Setiap hari kita perlu mendapatkan iman yang segar. Iman adalah sikap hati yang percaya akan janji-janjiNya.

Dalam menerapkan iman di kehidupan sehari-hari tentulah kita akan bingung, sebab permasalahan hidup khan banyak bukan masalah iman saja. Iman bukanlah masalah! Masalahnya adalah kemalasan kita! Carilah iman untuk mengatasi kemalasan kita, maka untuk segala perkara di dalam hidup kita, kita akan mendapatkan iman menghadapinya. Kemalasan adalah musuh iman no.1. Itu sebabnya di kitab Amsal, kata malas banyak sekali kta temui, malas adalah sifat yang paling dibenci Tuhan. Karena kemalasan adalah pangkal kekurangan iman di dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Kemalasan adalah pangkal ketiadaan iman di dalam hidup kita. Tiadanya iman akan menyebabkan hidup penuh dengan permasalahan yang tidak dapat diselesaikan atau tidak mampu kita selesaikan. Semua orang punya masalah, hidup adalah masalah! Omong kosong kalau ada yang bilang beriman tidak punya masalah, beriman akan membuat kita mampu menghadapai dan menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Orang-orang gereja jangan berpikir bahwa ke gereja hari minggu akan menyelesaikan masalahmu, atau memberi perpuluhan akan menghindarkan engkau dari hutang atau kesulitan keuangan. Semua ritual itu tujuannya adalah mendapatkan iman, mengasah iman dan mendapatkan sumber-sumber iman yang baru. Iman berpangkal pada janji Tuhan, dimanakah kita dapat mendapatkan janji Tuhan untuk kita? Di ruang saat teduhmu, di gereja, di dalam kelompok sel, dari teman-teman yang seiman, dari lagu rohani, dari kaset khotbah, dari kesaksian, dan sebagainya lagi. Semua itu hanyalah instrumen, dari semua instrumen tersebut saya menyimpulkan bahwa saat teduh pribadilah yang memberikan kontribusi paling banyak di dalam mengisi hati kita denga iman.  Saat kita membaca firman Tuhan, menghafalkan, mencari firman yang sesuai dengan kebutuhan kita, berdoa, dan memutuskan untuk mempercayai firmanNya itulah iman. Bagaimana mau percaya bila tidak ingat satupun firman? Atau firman yang teringat hanya yang sedikit dan tidak ada hubungannya dengan masalah kita? Mau mempercayai apa kalau tidak ada dasarnya? Kepercayaan kita haruslah didasarkan pada satu atau beberapa buah firman Tuhan.

Jadi permasalah kita kembali adalah iman, iman dan iman..dengan iman kita mengalahkan dunia…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: