Oleh: Daniel Timorang | 7 Desember 2009

Pengantar Perjanjian Baru

Kedatangan Yesus merupakan tanda dari sebuah zaman baru di mana Allah secara pribadi memasuki sejarah umat manusia, dan secara jelas menyatakan diriNya bahwa Ia ada dipihak manusia, melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk menyelamatkan umat manusia. Semua ini dinyatakan dan dikerjakan di dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus. Namun manusia sejak dahulu dan sampai sekarang sukar untuk percaya, bagi manusia adalah sangat tidak masuk akal.

Tetapi pada masa itu terjadilah satu per satu, pria dan wanita yang mempercayainya. Percaya bahwa Yesus adalah Tuhan hidup diantara mereka dan bekerja untuk mereka. Lambat laun mereka menyadari bahwa ternyata Ia telah hidup di dalam mereka. Dan dengan keheranan mereka menyadari bahwa mereka sedang hidup di sebuah dunia yang di dalamnya Allah mempunyai kuasa atas segala sesuatu, sehingga hidup mereka diubah menjadi baru.

Dengan kesan yang mendalam akan kebenaran yang baru ini, mereka menceritakan tentang Yesus dan menyusun pengajaran-pengajaran mereka untuk supaya dapat diingat. Mereka menulis surat-surat. Mereka menyanyikan lagu-lagu. Mereka berdoa. Salah satu dari mereka bahkan menulis sastra berdasarkan pada penglihatan yang kudus. Tidak ada yang mengorganisir, mereka umumnya tergerak secara spontanitas. Selama sekitar 50 tahun, dokumen-dokumen ini disusun dan dikumpulkan oleh para pengikut Yesus dan terciptalah kemudian “Kitab Perjanjian Baru” atau pada masa itu di sebut Injil artinya: Khabar baik.

Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 3 jenis tulisan yaitu, Kisah Nyata, surat-surat pribadi dan sastra dari penglihatan illahi, semuanya berjumlah: 5 cerita, 21 surat dan sebuah sastra.
Di dalam perjalanan penulisan dan pemberitaan, pengumpulan dan penyusunan, yang tanpa dikoordinasi oleh siapapun; orang-orang Kristen pada masa Perjanjian Baru, yang hidupnya diubahkan dan dibentuk oleh apa yang mereka baca, sampai pada suatu keyakinan bahwa sebenarnya ada sesosok pribadi yang mengatur, menggerakkan semuanya ini, yaitu Roh kudus.

Sebagai sebuah karya tulis, mereka dapat menyaksikan bahwa tulisan-tulisan ini tidak teracak-acak, setiap kata tersusun satu dengan yang lainnya, bekerja bersama-sama, dan semua dokumen yang terpisah-pisah baik asal dan sumbernya saling berhubungan dengan harmonis. tidak ada yang kebetulan, tidak juga direncanakan. Mereka secara berani menyatakan bahwa ini adalah Firman Tuhan dan mempercayakan hidup mereka pada apa yang tertulis. Mereka tunduk pada tulisan-tulisan ini di dalam hidup mereka. Kebanyakan para pembacanya menjadi percaya Tuhan.

Keunggulan dari tulisan-tulisan ini adalah bahwa semuanya menggunakan bahasa dan kosa kata yang umum dipakai sehari-hari di dalam kehidupan mereka. Di kalangan yang berbahasa Yunani pada saat itu, terdapat 2 level bahasa yang lazim digunakan. bahasa formal yang khusus digunakan untuk Filosofi dan sejarah, undang-undang pemerintah, dan puisi sastra. Bila seseorang pada saat itu duduk untuk menulis puisi, maka ia akan menggunakan bahasa yang formal ini dengan tata bahasa yang tertentu dan kosa kata yang tertentu pula. tetapi bila sebuah tulisan itu bersifat rutin sehari-hari seperti: daftar belanjaan, surat utk keluarga, rekening dan tanda terima, itu akan ditulis secara bahasa informal yang dipakai sehari-hari di jalanan.

Dan bahasa informal inilah yang dipergunakan diseluruh Perjanjian baru. Beberapa orang tidak setuju dengan ini. Mereka berargumen bahwa bila tulisan-tulisan itu berhubungan dengan yang Maha tinggi, maka seharusnyalah bahasa formal yang dipakai. Tetapi coba lihat baik-baik sifat yang ada pada Yesus, yang Dia contohkan dari penampilannya sampai kehidupannya menyangkal semua argumen kelompok ini. Karena Yesus adalah titisan Allah yang menjangkau manusia, Yesus bukanlah seorang manusia yang berusaha menjangkau Allah dengan usaha kerasnya dan berharap bahwa BapaNya akan senang dengan segala usahanya.

Sebab itulah mengapa para pengikut Yesus di dalam penyampaian kesaksian, khotbah, di dalam pekerjaan penterjemahan dan pengajaran, berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikan pesan utama yaitu Khabar Baik atau Injil dengan cara yang sesederhana mungkin untuk menjangkau manusia. Dalam usaha untuk menyampaikan Khabar Baik ini sebenar-benarnya, bahasanya haruslah benar dan sesederhana mungkin untuk di mengerti. Bukan dengan bahasa tingkat tinggi yang semakin memisahkan Allah dari manusia. Tetapi khabar baik ini seharusnya mendekatkan manusia kepada Tuhan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dimengerti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: